Hindari “Kecak” Supaya Hajinya Lancar

Ketua Pengurus Koperasi BMT Maslahah saat memberikan sambutan pada acara  “Praktik Manasik dan Istighotsah Calon Jamaah Haji Keluarga Besar Koperasi BMT Maslahah”,  Ahad (7/7/2019), mengatakan, salah satu yang perlu dihindari oleh para jamaah haji saat berada di Tanah Suci Makkah dan Madinah adalah “kecak”. “Kecak” merupakan bahasa Madura yang berarti “perkataan yang bernuansa ‘ujub bernada kesombongan”.

“Jangan sampai terbersit kecak dalam ucapan, hal sepele ini bisa menjadi bumerang dalam ibadah haji. Banyak kejadian yang tidak menyenangkan (di luar dugaan) dialami oleh jamaah haji lantaran “kecak”, bahkan oleh jamaah yang sudah berkali-kali menunaikan ibadah haji dan umroh,” ujarnya mewanti-wanti seusai jama’ah melakukan dzikir istighotsah demi keselamatan dan kemabruran bersama.

Ada seorang jamaah, lanjutnya mengisahkan, yang minta tolong untuk diantar ke apotik (shoydaliyyah) yang letak sebenarnya tak jauh dari maktab atau pemondokan haji. Orang yang dimintai tolong rupanya enggan sehingga muncul ucapan kecak; “Apotiknya dekat, nggak sampai 50 meter dari maktab. Kamu tidak akan kesasar. Mudah kok mencari lokasinya,” ucapnya kecak.

Karena terus didesak oleh jamaah yang minta tolong, akhirnya yang bersangkutan mengantarkannya ke apotik. Ternyata, setelah berjalan sekitar setengah jam, mereka tidak menemukan apotik yang dicari sampai muter-muter beberapa kali tak kunjung pula ditemukan. Karena merasa kecapaian, mereka memutuskan pulang kembali ke maktab. “Subhanalloh, dalam perjalanan pulang ke maktab itulah, justru mereka melihat apotik yang dicarinya berada tak jauh dari maktab,” kisahnya.

Selain “kecak”, hal lain yang perlu mendapat perhatian oleh jamaah haji yaitu memahami ilmu tentang ibadah haji. “Jangan sampai melakukan hal-hal yang dapat mengakibatkan terkena dam (denda). Misalnya, calon jamaah haji suami-istri yang sudah mendarat di Jeddah kemudian mengucapkan niat untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Karena bus yang akan mengantar mereka ke maktab masih 2 jam lagi, mereka lalu memutuskan ke hotel untuk berhubungan suami-istri karena menganggap ibadah yang dilaksanakan di Tanah Suci Makkah itu berlipat-lipat pahalanya termasuk ibadah berhubungan suami-istri,” kisahnya.

Banyak calon jamaah, lanjutnya, yang masih belum tahu bahwa berhubungan suami-istri setelah mengucapkan niat berhaji dan umroh itu bisa terkena dam atau denda. “Untungnya Ustadz Sholeh Romli yang menyampaikan materi manasik haji secara berurutan menyampaikan materi manasik secara lengkap sehingga para peserta antusias mengikuti pelatihan manasik haji,” jelasnya.

Penulis: Mokh. Syaiful Bakhri

Editor: Muhammad Mujib

Post Your Comment Here

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.