M A S L A H A H

17 Januari 2020

Keunikan yang dimiliki oleh Koperasi BMT Maslahah membuat banyak pihak terutama dari kalangan akademisi yang tertarik untuk menelitinya. Salah satunya adalah Wuri Handayani, Ph.D. Dosen Akutansi UGM ini selama seminggu (Oktober 2012) melakukan penelitian di Koperasi BMT Maslahah. Lulusan program doktoral dari University of Hull United Kingdom ini tertarik untuk meneliti keunikan Koperasi BMT Maslahah yang didirikan oleh para guru pesantren yang tidak memiliki latar belakang pengetahuan (secara formal) mengenai manajemen, akuntansi dan bisnis. “Saya benar-benar ingin mengetahui latar belakang para pendiri membentuk BMT, bagaimana prosesnya, bagaimana perjalanannya dan bagaimana mereka bisa berhasil mengelola koperasi,” ujarnya.

Setelah tujuh tahun dari penelitiannya, Selasa 1 Oktober 2019 yang lalu, Wuri Handayani, Ph.D kembali mengunjungi Koperasi BMT Maslahah. Pada kunjungan yang kedua kali ini, dia menyerahkan disertasi hasil penelitiannya berjudul Exploring Accountability and Governance in Islamic Microfinance Institution: Indonesia Case yang berhasil dipertahankan sehingga meraih gelar doktor bidang ekonomi dari kampusnya di Inggris (2015).

Wuri Handayani meneliti bagaimana BMT di Indonesia bisa tumbuh dan berkembang menjadi alternatif dalam menyediakan pembiayaan keuangan dan pelayanan lainnya. Hal ini mengingat bahwa di negara lain (misalnya di Bangladesh dan Amerika Latin), lembaga keuangan mikro didirikan oleh pemerintah, mendapat dukungan sepenuhnya dari pemerintah dan lembaga donor (baik dari sisi keuangan maupun pendampingan pengelolaannya); namun mereka tidak dapat bertahan lama (bangkrut) maksimal dalam kurun waktu 5 tahun sejak didirikan.

Beberapa hal yang ditemukan olehg Wuri Handayani saat melakukan penelitian, yaitu:

1. Cultural capital (modal budaya) dan social capital (modal sosial) berupa keinginan bersama untuk melakukan dakwah menghindari riba secara riel (nyata) merupakan modal awal terbesar yang dimiliki oleh para pendiri BMT Sidogiri. Dalam perjalanannya, melalui modal awal ini, BMT Sidogiri berhasil mengkoversi modal budaya dan modal sosial menjadi modal ekonomi yang terbukti dengan keberhasilan BMT Sidogiri mengelola dana dari 13,5 juta menjadi ratusan miliar.
2. Praktek tata kelola dan akuntabilitas yang diterapkan oleh BMT Sidogiri merupakan refleksi dari nilai-nilai yang diajarkan sejak para pendiri dan seluruh anggota (serta karyawannya), di mana :
3. Menjalankan bisnis (melalui BMT dan seluruh bisnis yang terkait di dalamnya) merupakan media dakwah, bukan semata-mata mencari keuntungan. Dengan demikian, dalam menjalankan bisnisnya, nilai-nilai Islami-lah yang dikedepankan. Misalnya, ketika nasabah mengajukan permohonan pembiayaan, maka dilakukan akad dan tausiyah singkat, disertai doa semoga apa yang akan direncanakan oleh nasabah berjalan lancar. Mekanisme inilah yang tidak saya jumpai di tempat lain yang hanya mendasarkan pada tanda tangan akad semata.
4. Bahwa pondok pesantren Sidogiri adalah “ibu” dan sekaligus rumah kedua bagi mereka sehingga atribut pondok (memakai sarung dan kopyah) tetap dipertahankan. Hal ini dilakukan untuk “menjaga” nama baik pondok dan aktivitas bisnis yang dilakukan di BMT juga merupakan bentuk “pengabdian” kepada pondok.
5. Nilai-nilai di atas yang menjadi pondasi bagi BMT Sidogiri dalam menjalankan bisnis sehingga menjadi besar dan menjadi salah satu koperasi terbaik di Indonesia.

Menurut Wuri Handayani , BMT memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi model ekonomi Islam karena nilai-nilai Islami (sesuai dengan prinsip kepatuhan syariah) sangat mungkin diterapkan di BMT. Hal ini disebabkan karena BMT masih memiliki fleksibilitas dalam operasional sehari-hari, sedangkan bank syariah (termasuk BPRS) sangat dibatasi oleh aturan dan regulasi. Oleh karena itu, BMT perlu tetap dikembangkan sebagai alternatif lembaga pembiayaan yang profesional sehingga memenuhi kebutuhan nasabah dan umat.

Dari penelitian yang sudah dilakukan dan beberapa bukti empiris, ada banyak BMT di periode 1990-an akhir banyak ditutup/kolaps karena mis-manajemen. Dia memandang, BMT yang ada di Sidogiri sudah semakin besar dan permasalahan pasti akan semakin kompleks. Tata kelola dan pengawasan menjadi kunci utama dalam pengelolaan organisasi. Regenerasi perlu dipersiapkan sejak awal agar visi dari para pendiri masih tetap dapat dipertahankan. Selain itu, katanya, tantangan terbesar dunia lembaga keungan saat ini adalah masifnya financial technology (fintech). Banyak pelayanan keuangan terdisrupsi dengan adanya fintech ini. Oleh sebab itu, BMT yang ada di Sidogiri perlu melakukan kajian mengenai bagaimana melakukan inovasi, termasuk juga mengantisipasi disrupsi yang mungkin akan terjadi.

 Penulis: Mokh. Syaiful Bakhri